Kamis, 10 Februari 2022

Berdebat untuk Menolak Harta


Ada dua orang yang melakukan transaksi jual beli tanah. Setelah selesai jual beli, sipembeli mengolah tanahnya untuk ditanami. Ketika mengolah tanahnya ia menemukan sebuah bejana yang berisi penuh emas. Karena orang ini sangat wara’ (berhati-hati terhadap barang yang syubhat /barang yang diragukan kehalalannya), maka ia segera membawa bejana yang berisi emas itu kepada penjual tanah, yang baru beberapa hari telah dibeli tanahnya, dan berkata, “Aku menemukan bejana yang  berisi emas ini di tanah yang aku beli dari engkau, ini pasti milikmu, ambillah!!”

Karena sang penjual tanah juga wara’ maka ia berkata, “saya menjual tanah itu dan segala apa yang ada di dalamnya termasuk emas, jjadi bejana yang berisi emas itu adalah milikmu !!”

“Tidak bisa,” Kata pembeli tanah. “Aku hanya berniat membeli tanahmu, dan tidak membeli emas yang ada di dalamnya !”
Penjual tanah berkata, “Emas itu engkau temukan setelah tanah itu menjadi milikmu, jadi tentunya itu adalah milikmu, bukan milikku!!”

Begitulah, mereka terus berdebat untuk menolak memiliki bejana berisi emas yang nilainya (harganya) tentu sangat tinggi.

Hal itu mereka lakukan semata-mata karena mereka tidak ingin menerima atau memakan /memasukkan sesuatu barang syubhat apalagi haram, takut berdosa, takut menyulitkan di yaumul hisaab (hari perhitungan amal) kelak di akhirat.
Karena masing-masing tidak mau mengalah untuk memiliki emas tersebut, maka akhirnya mereka sepakat membawa perkaranya itu ke seorang Hakim.

Setelah masing-masing menceritakan permasalahan dan alasannya, sang Hakim hanya menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak percaya kalau ada orang seperti mereka yang sama-sama menolak untuk menerima seonggok emas (orang biasa menyebut "harta karung"), justru kebalikan dari orang-orang pada umumnya, bekerja dan berusaha keras mencari harta karung tanpa peduli halal haramnya, "pikir sang Hakim".Tetapi sang Hakim juga sangat kagum atas sikap dan sifat wara' mereka.
Setelah berfikir sejenak, sang Hakim bertanya “Apakah kalian punyai anak ?"

Salah seorang berkata, “Saya punyai anak laki-laki !". Yang satunya lagi berkata, “Saya punyai anak perempuan!!”

Sang Hakim berkata, “Nikahkanlah anak-anak kalian, dan berikan bejana berisi emas itu kepada mereka !"

Dan mereka sepakat menerima keputusan Hakim dengan senang hati dan menikahkan anak-anak mereka.

Akhirnya mereka bahagia dan menjadi keluarga besar dan saling menguatkan satu sama lain. Begitulah akibat dari ketaqwaan seseorang, berakhir dengan kebahagiaan.

(Sumber: Aplikasi, Kisah Cerita Nyata Dalam Islam,alamat:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.qailastudio.ceritaislamforex). 



Rabu, 09 Februari 2022

Akibat Melalaikan Sholat

 


Diriwayatkan bahawa pada suatu hari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam (Saw.) sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang seorang pemuda masuk ke dalam masjid dengan menangis.

Ketika Rasulullah Saw. melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai pemuda kenapa engkau menangis?"

Maka berkata pemuda itu, "Ya Rasulullah Saw, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan untuknya dan tidak pula ada orang yang hendak memandikannya."

Lalu Rasulullah Saw memerintahkan Abu Bakar Assiddiq, r.a. dan Umar Al Faruq, r.a. ikuti pemuda itu ke rumahnya untuk melihat jenazah ayahnya dan masalahnya. Setelah mengikut pemuda itu, maka Abu Bakar Assiddiq, r.a dan Umar Al Faruq, r.a. mendapati jenazah ayah pemuda  itu telah berubah menjadi seekor babi hutam. Maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, kami lihat mayat ayah pemuda ini berubah menjadi babi hutan."

Kemudian Rasulullah Saw. dan para sahabat pun pergi ke rumah pemuda itu dan Baginda pun mendoakan kepada Allah  Swt kemudian mayat itu pun berubah kembali menjadi bentuk manusia seperti semula. Lalu Rasulullah Saw. dan para sahabat menshalatkan jenazahnya. Lalu meminta sahabat memakamkannya. 

Betapa heirannya para sahabat, ketika jenazah itu akan dimakamkan berubah kembali menjadi babi hutan.

Melihat kejadian itu, Rasulullah menanyakan anak itu apa yang dikerjakan ayahnya selama hidupnya.

"Ayahku tidak pernah mengerjakan sholat selama hidupnya," jawab anak itu. Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabat dan yang hadir di pemakaman itu, llihatlah sendiri, begitulah akibatnya bila orang meninggalkan sholat semasih hidupnya, dan Ia akan dibangkitkan nanti  di hari kiamat dalam keadaan seperti itu (babi hutan). 

Na'udzu Billahi Mindzalik (semoga kita dilindungi oleh Allah Swt dari keadaan seperti demikian).

Judul asli tulisan : Jenazah berubah jadi babi hutan.

(Sumber : Aplikasi, 100 Kisah Teladan Islami, alamai link : 
https://play.google.com/store/apps/details?id=net.azzikrstudio.kisahTeladanIslami). 


Selasa, 08 Februari 2022

Pertolongan Allah Yang Tidak Terduga



Ada seorang yang akan bepergian melewati padang pasir yang luas. Ia telah mempersiapkan perbekalannya, baik makanan ataupun minuman selama dalam  perjalanan itu pada seekor onta, yang juga akan jadi kendaraannya. Setelah melakukan perjalanan di tengah padang pasir yang begitu panasnya, ia ingin beristirahat, lalu singgah di bawah suatu pohon. Tetapi begitu ia turun dari kendaraannya, ontanya tersebut lepas dan melarikan diri entah kemana. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kesedihannya, apalagi semua perbekalannya ikut hilang.

Orang itu mencoba mengikuti jejak-jejak ontanya dengan harapan akan menemukan nya kembali. Tetapi tidak begitu lama mengarungi padang pasir yang seolah tanpa batas itu, ia jatuh, lelah, lapar dan haus  sehingga ia tidak mampu meneruskan langkahnya. Ia berteduh di bawah sebuah pohon dan tertidur di sana.

Entah berapa lama ia tertidur, lalu ketika ia  terbangun tiba-tiba dilihatnya ontanya  duduk menderum di bawah pohon itu juga, masih lengkap dengan perbekalannya, tidak berkurang sedikitpun. Tidak terkira kegembiraannya melihat ontanya itu, begitu gembiranya sehingga ia salah dalam mengucap rasa syukurnya, ia berkata :  “Allahumma anta ‘abdii, wa ana rabbuka” (Wahai Allah, Engkaulah hambaku, dan aku adalah rabb-Mu).

Padahal maksudnya ia ingin berkata : "Allahumma anta rabbi wa ana ‘abduka."

Kegembiraan yang begitu memuncak membuat ia salah tanpa menyadarinya dan lisannya “keseleo” mengucapkan perkataan itu. (Namun Allah tidak murka padanya karena ia tidak sengaja).

Ia segera memeluk ontanya dan segera mengambil makanan dan minuman untuk mengobati perutnya yang telah sangat perih minta diisi. Orang itu sangat gembira dan yakin kalai ini adalah pertolongan Allah yang mengembalikan untanya, yang tadinya tidak percaya kalau untanya itu bosa ditemukan kembali.

Nabi SAW yang menceritakan kisah tersebut, berkata kepada para sahabat, “Sungguh Allah lebih gembira daripada kegembiraan  orang tersebut yang menemukan kembali ontanya yang telah hilang di tengah padang sahara, dan Allah Swt menerima taubatnya atas kesalah ucapannya yang tidak disengaja itu.

Judul asli : Allah lebih gembira atas hamba-Nya yang ingin bertaubat.

(Sumber: Aplikasi, Kisah Cerita Nyata Dalam Islam,alamat:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.qailastudio.ceritaislamforex). 


Minggu, 06 Februari 2022

Antara Sabar dan Mengeluh



Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.

Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain  itu pasti kerena tidak pernah risau dan bersedih hati.

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan, lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati karena risau, dan tak seorang pun yang menemaniku dalam melewati takdirku ini."
Abu Hassan bertanya, "Apakah gerangan hal yang merisaukanmu ?"

Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban. Dan kami mempunyai dua orang anak yang sudah bisa bermain dan yang satu masih menyusu. 

Dan ketika aku bangun pagi untuk membuat dan menghidangkan makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata kepada adiknya, "Hai adikku, maukah kamu aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"

"Baiklah kalau begitu ?" Jawab adiknya, 

Lalu disuruhlah adiknya berbaring dan disembelihnya leher adiknya itu, seperti ayahnya menyembelih kambing.. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah adiknya menyembur keluar dari leher adinya, dan ia lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala. Lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga ayahnya pun mati kehausan. 

Dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melepuh kulit badannya dan akhirnya meninggal pula. 

Berita itu terdengar kepada anakku yang sudah menikah yang tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menemuii pula  ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara.

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat herat itu ?"

Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. 

Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapatkan ganjaran yakni sia-sia belaka."  Ucap wanita itu menutup kisahnya 

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah :Bahwa bersabar adalah sifat terpuji dan ciri khas orang yang beriman. Sedangkan mengeluh adalah sifat tercela dan mengantarkan kepada berputus asa, sedangkan putus asa adalah sifat kekufuran.

Orang yang bersabar tetap dalam kebaikan, sebagaimana wanita dalam cerita tersebut di atas. Dan sehubungan dengan itu Rasulullah Saw telah bersabda : 
“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya." (HR Muslim Nomor 2999).

(Sumber: Aplikasi, Kisah Cerita Nyata Dalam Islam,alamat:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.qailastudio.ceritaislamforex).


Sabtu, 05 Februari 2022

Akibat Membantah Nasehat Ibunya



Seorang lelaki bernama Awwam bin Husyaib baru saja pindah ke rumah di dekat suatu pemakaman. Pada waktu ashar, tiba-tiba dilihatnya dari salah satu  kuburan muncul asap berwujud seorang lelaki berkepala keledai, dan mengeluarkan suara dengkingan (suara keledai) sebanyak tiga kali. Kemudian wujud asap itu masuk kembali ke dalam kubur. Tidak jauh dari kuburan tersebut, ada seorang wanita yang sedang memintal benang bulu.

Ibnu Husyaib begitu keheranan melihat pemandangan itu. Seorang wanita tetangganya yang melihat ekspresi keheranannya berkata, “Tahukah engkau wanita tua yang memintal benang bulu itu?” Sambil tetangganya itu menunjukkan tempatnya. 

Ibnu Husyaib berkata, “Siapakah dia?”
“Dia adalah ibu dari lelaki yang kuburannya tadi berasap dan mengeluarkan suara dengkingan keledai!!” Kata tetangganya itu.
“Bagaimana ceritanya hingga bisa seperti itu?” Tanya Ibnu Husyaib.

Wanita itu kemudian bercerita, bahwa anak lelakinya itu sangat suka dan sering minum khamar. Suatu ketika sang ibu berkata kepadanya, “Wahai anakku, berhentilah minum khamar, takutlah kamu kepada Allah. Sampai kapankah engkau akan minum khamr ?”

Anaknya yang sedang dirasuki Syaithon karena pengaruh) khamr itu sehingga akalnya tidak sehat, berkata kepada ibunya, “Engkau medengking saja seperti keledai!! Anak lelakinya itu balik mencela Ibunya yang sedang menasehatinya. 

Dan ternyata setelah waktu ashar di hari itu, anak lelakinya itu meninggal. Dan setelah dikuburkan, pada hari hari berikutnya, setiap waktu ashar kuburannya mengeluar kan asap berwujud dirinya yang berkepala keledai, dan mendengking tiga kali layaknya seekor keledai. Na'udzu Billah min dzalik (semoga Allah melindungi kita dari hal buruk seperti yang demikian itu).
Subhanallah (Mahasuci Allah).

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah singkat tersebut adalah, "janganlah sekali-kali membantah orang tua, terutama ibu, apalagi mencelanya." Karena ibu itu mmberi nasehat pertanda sayang kepada anaknya.  

Bukankah Nabi Saw. pernah bersabda :
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
”Ridha Allah tergantung kepada ridha kedua orang tua dan murka-Nya tergantung kepada kemurkaan keduanya” (Riwayat Ath Thabarani).





Berkat Sedekah Kepada Pengemis

 


Dalf bin Jahdar Asy-Syibli, nama kunyah (asli)-nya Abu Bakar, sehingga lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Asy-Syibli, adalah seorang ulama sufi yang lahir dan dibesarkan di Baghdad. Ia bersahabat dengan ulama sufi lainnya yang sangat terkenal, yaitu Junaid al Baghdadi. Suatu ketika ia sedang berjalan-jalan ke suatu desa, dan ia melihat seorang pemuda kurus dengan rambut terurai dan bajunya sangat kumal. Pemuda itu sedang duduk di antara kuburan dan meletakkan pipinya di tanah, air matanya mengalir membasahi wajahnya, mulutnya terus bergerak mengucap dzikr. Tasbih (subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (laailaha illallah), dan istighfar (astaghfirullah) tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Sesekali ia memandang ke langit.

As-Syibli sangat tertarik dengan pemuda tersebut, karena itu ia menghampirinya, tetapi melihat kedatangannya, sang pemuda itu  lari menghindar darinya. As-Syibli berusaha mengejarnya, namun karena tertinggal terus, ia berkata, “Pelan-pelanlah, wahai waliyullah!!”.(Menurut As-Syibli pemuda itu adalah kekasih Allah).
Sang pemuda hanya berkata, “Allah”

As-Syibli berkata lagi, “Demi Allah, sabarlah engkau tunggu aku!!”

Sang pemuda hanya mengisyaratkan penolakan dengan tangannya, sambil berkata, “Allah” (hanya ingin bertobat kepada Allah).

Patah semangat untuk menghentikan pemuda itu, Asy-Syibli berkata, “Jika benar apa yang engkau katakan, maka tunjukkan kepadaku kesungguhanmu kepada Allah!!”

Mendengar ucapan As-Syibli itu, sang Pemuda berteriak keras, “Allah!!”

Kemudian ia jatuh tersungkur. Ketika As-Syibli sampai di tempatnya, ia memeriksa pemuda tersebut dan ternyata ia telah meninggal. As-Syibli menjadi bingung sekaligus heran, begitu besar tekadnya kepada Allah, sehingga untuk membuktikan sebagaimana permintaannya, Allah harus mengambil nyawanya. 

Ada sedikit perasaan bersalah, sekaligus kekaguman, karena itu ia berkata, “Yakhtahshu bi rahmatihii man yasyaa’u (Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada siapa yang dikrhrndaki-Nya) (Qs. Al Imran, ayat 74), walaa haula walaaquwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim (tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah yang Maha Agung).”

As-Syibli pergi sebentar untuk mencari kain kafan dan segala keperluan untuk memakamkan pemuda tersebut. Setelah kembali ia tidak menemukan jenazahnya, bahkan tidak ada bekas-bekasnya. Sekali lagi ia bingung dan bertanya-tanya, siapakah yang mendahuluinya mengurus jenazahnya, padahal ia tidak lama meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba ia mendengar hatif (suara tanpa wujud), “Ya Syibli, telah ada yang menyelesaikan urusannya. Jenazahnya telah dirawat malaikat. Hendaklah engkau banyak beribadah kepada Allah dan bersedekah. Pemuda itu tidak sampai kepada kedudukannya seperti itu, kecuali karena suatu sedekahnya di suatu hari.”

“Beritahukanlah kepadaku, apakah sedekah nya itu?” Kata As-Syibli.

“Ya Syibli, pemuda itu sebelumnya adalah seorang yang fasik, suka berzina, durhaka dan gemar bermaksiat kepada Allah. Suatu malam ia bermimpi kemaluannya menjadi seekor ular dan menyemburkan api dari mulutnya. Ia disembur dengan api itu sehingga tubuhnya menjadi hitam seperti arang. 

Setelah terbangun, ia gelisah dan ketakutan, kemudian menyingkir dari orang-orang sekitarnya, ia pergi menyendiri untuk bertobat dan khusyu’ beribadah. Ia tetap dalam keadaannya itu selama duabelas tahun, hingga kemarin ia kedatangan seorang pengemis yang meminta makanan. Karena ia tidak memiliki apa-apa lagi, maka ia melepas baju yang dipakainya, dan memberikannya kepada sang pengemis. Karena begitu gembiranya si pengemis itu mendoakan sang pemuda agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah, dan Allah mengabulkan do'anya. Karena itulah pemuda itu memperoleh kemuliaan (karamah) seperti yang engkau lihat…!!”
Masyaa Allah.
(Dikutip dan diedit dari cerita Islami).

Pelajaran yang dapat dipetik :
(1) Jangan pernah merendahkan seseorang karena kemiskinannya atau karena kekurangan lainnya, karena boleh jadi dia adalah wali (kekasih) Allah.

(2) Jangan pernah meremehkan seseorang karena kejahatan atau dosanya, karena bisa jadi diakhir hidupnya ia dapat hidayah, diterima taubatnya dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata'ala.




Jumat, 04 Februari 2022

Tujuh Macam Pahala Amal Jariyah

 



Pahala artinya balasan (baik itu berupa kesenangan, keselamatan, ataupun kebaikan lainnya).
Amal jariyah artinya amal yang terus mengalir pahalanya kepada orang yang pernah melakukan suatu amalan, meskipun sudah wafat.

Dari Anas Bin Malik, r.a. Sahabat dan pengawal Rasulullah Saw. pernah bersabda (berkata), bahawa ada tujuh macam pahala (balasan) yang dapat diterima seseorang meskipun selepas mati (wafat)-nya.

Pertama ; Siapa saja yang mendirikan masjid (pengertian mendirikan mesjid adalah semua orang yang terlibat dalam pembangunan mesjid, baik itu dengan hartanya (dananya), tenaganya, atau pikirannya, dsb.) maka ia tetap mendapat kan pahalanya selagi masjid itu digunakan untuk beramal ibadat di dalamnya.

Kedua : Siapa saja yang mengalirkan air sungai (membuat, membangun pengairan, saluran air) selagi ada orang yang minum dan menggunakan air daripadanya, maka pahalanya pun terus didapatkannya.

Ketiga : Siapa saja yang menulis mushaf (tulisan, buku, majalah, dsb. kan mendapatkan pahalanya  selagi ada orang yang membacanya.

Keempat : Orang yang menggali (membuat) sumur, selagi masih ada orang yang menggunakannya, pahalanya terus didapatkannya.

Kelima : Siapa saja yang menanam tanam-tanaman (biji-bijian) kemudian tumbuh sampai berbuah, dapat dimanfaatkan, selagi ada yang memakan buahnya atau memanfaatkannya,  baik dari manusia atau burung (binatang).

Keenam : Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ilmu itu diamalkan oleh orang yang mempelajarinya, maka pahalanya terus mengalir.

Ketujuh : Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang selalu beribadah dan mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar bagi kedua orang tuanya.

.

Featured Post

JADILAH SEPERTI MUSAFIR

source image: detik.com عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل...