Tampilkan postingan dengan label TAUHID. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUHID. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2023

ORANG YANG BERUNTUNG DAN BAHAGIA

 Bacalah oleh kalian jika kalian suka, yaitu firman-Nya,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}
"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguhlah ia telah beruntung" (Ali Imran: 185).
 يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ  
Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Qs. Hud/105).
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَأَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أن يؤتى إليه»
Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati sedang ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dan hendaklah ia memberikan kepada orang-orang apa yang ia suka bila diberikan kepada dirinya sendiri.

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ  
Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (Qs. Hud/106).

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim: 48)

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ  
Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Qs. Hud/106).
Orang yang diselamatkan dan yang dibinasakan
{وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72) }
Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam, ayat 71-72).

Referensi : Al-Qur'an Tafsir, Tajwid, Audio, https://play.google.com/store/apps/details?id=com.apps.zayn.hafalquran

Sabtu, 10 Juni 2023

SEUTAMA UTAMA PERJUANGAN

source image: kapanlagi.com

 Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad (perjuangan) yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang adil) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ali bin Abi Thalib pernah berkata,

لا يصلح للناس إلا أمير عادل أو جائر ، فأنكروا قوله : أو جائر فقال : نعم يؤمن السبيل ، ويمكن من إقامة الصلوات ، وحج البيت

“Masyarakat tidak bisa jadi baik jika hidup tanpa pemimpin, baik pemimpin tersebut adalah orang yang sholih ataupun orang yang zalim.” Ada yang menyanggah beliau terkait dengan kalimat ‘ataupun orang yang zalim. ‘Ali menjelaskan, “Bahkan dengan sebab penguasa yang zalim jalan-jalan terasa aman, rakyat bisa dengan tenang mengerjakan shalat dan berhaji ke Ka’bah.” (Tafsir Al Kabir wa Mafatih Al Ghaib karya Muhammad Ar Razi 13: 204).1

Jadi kalau kita cermati pernyataan kalimat pemimpin yang zalim tersebut yang dimaksud adalah pemimpin yang bisa melawan kezaliman lainnya yang akan mengganggu daerah kekuasaannya. Tapi jika krzalimannya dilakukan kepada masyarakatnya maka itulah yang dimaksud sebagai perjuangan (jihad) dalam menyatakan dan menyampaikan pendapatnya berupa tuntutan keadilan di hadapan pemimpin (penguasa). Dikatakan sebagai jihad (perjuangan) karena tentunya mengandung risiko kemarahan sang pemimpin tersebut yang bisa saja sewenang-wenang menindas rakyat yang melakukan protes terhadapnya, bisa dalam bentuk demonstrasi, dsb.

1Sumber https://rumaysho.com/3401-jihad-dengan-menasehati-penguasa-yang-zalim.html

Jumat, 09 Juni 2023

JADILAH SEPERTI MUSAFIR

source image: detik.com

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِن أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ


Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].”

Dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma pernah mengatakan, “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari (untuk beramal). Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari (untuk beramal). Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”


TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhâri, no. 6416; at-Tirmidzi, no. 2333; Ibnu Mâjah no. 4114; Ahmad, II/24 dan 41; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/230, no. 4029; Ibnu Hibbân, at-Ta’lîqâtul Hisân– no. 696 dan lain-lain


Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 1157. Kalimat di dalam tanda kurung [ ] tidak terdapat dalam riwayat al-Bukhâri.


KOSA KATA HADITS


أَخَذَ : Memegang

بِمَنْكِبَيَّ : Kedua bahuku. Maksudnya pangkal leher (tengkuk) dan pundak, karena ia yang menjadi sandaran.

إذَا أَمْسَيْتَ : Jika engkau berada pada waktu sore. Maksudnya masuk waktu sore.

وَإِذَا أَصْبَحْتَ : Jika engkau berada pada pagi hari. Maksudnya masuk waktu pagi.[1]

SYARAH HADITS

Hadits ini merupakan landasan agar manusia tidak memiliki angan-angan yang panjang di dunia. Orang yang beriman tidak sepantasnya menganggap dunia ini sebagai tempat tinggalnya yang abadi. Namun, Seyogyanya ia menganggap hidup di dunia ini seperti musafir yang sedang menyiapkan bekal bepergian menempuh perjalanan yang teramat panjang (menuju akhirat). 


Ini sesuai dengan wasiat para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalâtu was salâm dan para pengikut mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman menceritakan tentang keluarga Fir’aun yang beriman yang mengatakan:


يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ


Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. Ghâfir/al-Mukmin/40:39)


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا


Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya.


‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu berkata :


اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُوْنٌ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ


Sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak, karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah hari amal bukan hisab, sedang kelak adalah hari hisab bukan amal.


Umar bin Abdul Aziz rahimahullah  berkata dalam khutbahnya, “Sesungguhnya dunia bukan negeri yang kekal bagi kalian karena Allâh telah menetapkan kehancuran bagi dunia dan memutuskan bahwa penghuninya akan pergi. Betapa banyak bangunan yang kokoh tidak lama kemudian hancur atau roboh dan betapa banyak orang mukim yang sedang bergembira tidak lama kemudian dia meninggalkan dunia. Karena itu, hendaklah kalian —semoga Allâh merahmati kalian— memperbaiki kepergian kalian darinya dengan kendaraan paling baik yang ada pada kalian dan berbekallah, sesungguhnya bekal paling baik ialah takwa.”

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

كُنْ فِـي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.


Jika dunia bukan negeri domisili dan tempat yang abadi bagi orang Mukmin, maka orang Mukmin harus bersikap dengan salah satu dari dua sikap: Pertama, seperti orang asing yang menetap di negeri asing dan obsesinya (tujuan dan cita-citanya) ialah mencari bekal untuk pulang ke tanah airnya. Kedua, seperti orang musafir yang tidak menetap sama sekali, dia terus melanjutkan perjalanannya siang dan malam menuju negeri abadi.

Referensi : https://almanhaj.or.id/13112-hiduplah-di-dunia-ini-seakan-akan-orang-asing-atau-musafir.html




Selasa, 06 Juni 2023

TADZKIRAH (PERINGATAN)


source image: islampos.com

بســـــم الله الرحمن الرحيم

Rasanya ini bisa kita jadikan untuk *koreksi diri*.

Telah wafat beberapa minggu yg lalu seorang penulis wanita dari Kuwait Nadiah al Jar rahimahallah. 

Menjelang wafatnya ia menulis makalah ini di dalam buku hariannya : 


Bila kematianku tiba aku tidak khawatir dan cemas tentang jasadku yang kaku. 

Kaum muslimin pastilah akan menunaikan apa2 yang sudah seharusnya mereka kerjakan ... Melepaskan seluruh pakaianku .. memandikanku, mengkafaniku .. mengeluarkanku dari rumahku .. membawaku ke rumahku yang baru ( (kuburku) orang banyak akan datang mengantarku kesana, diantara mereka bahkan ada yang menunda / membatalkan pekerjaan demi pemakamanku ini. 

Seluruh milikku tidak ada satupun yang aku bawa; kunci-kuncikuku, kitab-kitabku, tas-tasku, sepatu-sepatukuu, baju-bajuu dan yang lainnya. Bila keluargaku sepakat mereka akan menyedekahkannya agar bermanfaat bagiku. 

Yakinlah, dunia tidak akan bersedih karena kematianku, alam semesta tetap akan berputar seperti biasanya, perekonomian akan berlanjut, pekerjaanku akan digantikan orang lain, harta bendaku akan menjadi warisan. Sedangkan di alam kubur semua menjadi perhitungan dan tanggung jawabku, yang banyak ataupun sedikit.. bahkan yang kecil yang tak berharga sekalipun. 

Hal pertama yang akan hilang seketika aku mati adalah nama yg dengannya aku dipanggil di dunia ini, seketika aku mati mereka memanggilku dengan sebutan "jasad", waktu shalat mereka menyebutku "jenazah", ketika menguburku mereka menyebutku "mayyit." Jelas sekali kala itu,. bahwa nasabku, sukuku, status sosialku dan ketenaranku tidak berarti apa-apa, sama sekali tidak layak diagung-agingkan. 

Alangkah sepele/kecilnya dunia ini, dan alangkah bodohnya kita yang selama ini menganggapnya penting / besar. 

Untuk kalian yang masih hidup :

Kesedihan kalian atasku dapat dibagi 3 golongan.

1. Orang-orang yang hanya mengenalku biasa-biasa saja akan mengasihaniku sesaat.

2. Teman-teman akrabku akan bersedih dan merasa kehilangan selama beberapa minggu, setelahnya mereka akan kembali pada kehidupannya semula.

3. Keluarga/ahlul baitku akan bersedih berbulan-bulan, mungkin setahun, setelahnya aku pun akan tinggal sebagai kenangan.

Berakhirlah kisahku diantara manusia, bermulalah kisah hidupku dialam akhirat. Terimaelah hilang dariku kecantikanku, hartaku, keluargaku, semuanya, inilah hidup yang sesungguhnya.

Apakah yang sudah engkau persiapkan sebagai bekal akhiratmu hari ini ?? mumpung masih hidup  perhatikan lah amalan-amalan wajibmu sunnah-sunnahmu, sadaqahmu, rahasia amal shalih, mudah-mudahan diakhirat engkau selamat.

iBla engkau membantuku menyampaikan pesan-pesankuku ini sebagai pengingat sesama manusia, insya Alloh akan engkau temukan pahala di dalam timbangan amalmu kelak di akhirat, karena ini termasuk da'wah.

Aamiiin Yaa Rabbal'alamin. 


Kamis, 27 April 2023

AIK-2 IBADAH

IBADAH

o Pendahuluan 

o A. Nama Mata Kuliah dan Jumlah SKS 1. 

o 1. Nama Mata Kuliah di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, disingkat AIK

o 2. Jumlah jam pembelajaran dan SKS masing-masing PTM dapat berbeda, minimal 8 SKS dan maksimal 12 SKS. 

o Jumlah Jam/Kredit : AIK II 100 menit/Minggu (2 sks) Prasyarat : AIK 1

o AIK I (Kemanusiaan dan Keimanan), 

o AIK II (Ibadah, Akhlak dan Muamalah). 

o AIK III (Kemuhammadiyahan), 

o AIK IV (Islam dan Ilmu Pengetahuan). 

o Pedoman ini hanya mengatur jumlah minimal SKS yang wajib diselenggarakan oleh semua PTM.


B. Tujuan Pendidikan AIK 

Tujuan umum pendidikan AIK adalah terbentuknya manusia pembelajar yang bertaqwa, berakhlak mulia, berkemajuan dan unggul dalam IPTEKS sebagai perwujudan tajdid dakwah amar makruf nahi munkar. 

Tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi tujuan yang lebih terukur (Tujuan Khusus) sebagai berikut: 

1. AIK I: Membentuk sarjana muslim yang mengenal diri dan Tuhan, misi, tujuan dan manfaat hidupnya sebagaimana dituntunkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. 

2. AIK II: Membentuk sarjana muslim yang taat dan benar dalam beribadah, unggul dalam bermuamalah, dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. 

3. AIK III: Membentuk sarjana muslim sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah yang mampu beramar makruf nahi munkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

4. AIK IV: Membentuk sarjana muslim yang berjiwa dan berperilaku cendekia (ulul albab).


C. Standar Kompetensi Lulusan. Setelah menyelesaikan program pendidikan ini mahasiswa memiliki kompetensi sebagai berikut: 

1. Mengetahui dan memahami hakekat Tuhan, manusia dan kehidupan sesuai dgn tuntunan Al-Qur’an dan Hadits yang shahih dan ilmu pengetahuan (AIK I) 

2. Mengamalkan tata cara beribadah yang benar berdasarkan alQur’an dan as-Sunnah maqbullah (AIK II). 

3. Berakhlakul karimah dalam bermuamalah yang bermanfaat bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara (AIK II). 


2. Hakekat Ibadah: 

o a. Konsep ibadah; 

o Konsep ibadah adalah mencakup segala apapun yg dikerjakan dan dilakukan dengan niat yg ikhlas karena Allah (karena semata-mata menaati perintah Allah dan mengharap keridhaan-Nya). (Qs.51/56, Qs. 98/5). 

o b. Ibadah mahdhah dan ghaira mahdhah; 

o (Ibsdah Khusus & Ibadah Umum). 

o Ibadah Mahdah adalah ibadah yg sudah jelas perintah dan tata cara pelaksanaannya. ibadah yang tatacaranya, waktunya, dan bahkan tempatnya sudah ditentukan aturan pelaksanaannya. Contonya : Shalat, Zakat, Puasa, Haji 


o Ibadah Ghaira Mahdah adalah ibadah umum.  Ibadah ghaira mahdhah-mu'amalah.  Misalnya: menuntut ilmu dengan niat ibadah (mengabdi mencari ilmu dengan ridha Allah),  pegawai yang berniat supaya pengabdiannya atau pekerjaannya bernilai ibadah, petani yang mengolah sawah-ladangnya dengan niat ibadah karena Allah. dsb.

KAIDAH IBADAH :

Qa'idah Ibadah Mahdah

الأصل في العبادة حرام حتى يأتي الدليل

"Hukum asal Ibadah (mahdah) itu adalah terlarang (haram) sampai ada dalil (yang memerintahkan)." . 

Jadi prinsipnya, jangan mengerjakan kalau tidak ada dalil yang memerintahkannya.   :

Qaidah Ibadah ghaida mahdah (Muamalah) :

الشرع ما دامت المعاملات جائزة إلا إذا قام دليل يمنعها

"Hukum asal muamalah boleh, kecuali ada dalil yang melarangnya (mengharamkannya) ".

Jadi prinsipnya kerjaka terus kebaikan (amal / amal sholih / amal jariyah) selama tidak ada larangannya. 


o c. Fungsi ibadah; 

o (1) (Hablum minallah & Hablum minannas) 

o (2) Untuk ningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. 

o (3) Sebagai bukti kesyukuran kepada Allah SWT. atas segala nikmat-Nya.  

o d. makna spiritual ibadah bagi kehidupan sosial. 

o Perhatikan ayat berikut :

o Al-Ma'idah (5) ayat 35 

o يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

o Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.

o Apakah wasilah itu ? 

o Perhatikan ayat berikut :

o Al-'Imran ayat 51 :                     

o اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ 

o Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.

o Tugas para Rasul Allah :

o Perhatikan ayat berikut :

o An-Nahl ayat 36 :

o وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

o Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).


o Ibadah dan hubungan sosial :

o An-Nisa' ayat 36

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

o Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diridiri. 


3. Shalat: 

o a. Hakikat shalat, 

Hakikat shalat itu adalah ibadah, zikir dan do’a.

Shalat itu adalah zikir, dalilnya Qs.Taha (20) ayat 15

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.

Dan Shalat itu adalah do’a

Qs. At-Taubah ayat 103

وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Imam Muslim di dalam kitab Sahih-nya telah meriwayatkan: Ketika Abu Aufa  membawa zakatnya kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam mendoakan : 

اللَّهُمَّ صَل عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى"

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada keluarga Abu Aufa.

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa seorang wanita berkata, "Wahai Rasulullah, berdoalah untuk diriku dan suamiku." Maka Rasulullah Saw berdoa:

  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكِ، وَعَلَى زَوْجِكِ

Semoga Allah merahmati dirimu juga suamimu.

o b. Mengapa Allah mewajibkan shalat; 

Karena kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah Swt, maka karena itu Allah pun menunjukkan cara kita beribadah kepadanya setiap hari dengan melaksanakan shalat. 

Lihat dalilnya Qs.Taha (20) ayat 15

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.

o c. Tujuan dan fungsi shalat; 

o Tujuan shalat adalah untuk beribadah kepada Allah (Qs.51/56).

o Fungsi shalat adalah menceah dari perbuatan keji dan mungkar (Qs.29/45).

o d. Akhlak dalam shalat; 

o Shalat yg bermanfaat adalah shalat yg khusyuk, sebagaimana disebutkan dalam QS. 23/1-2, Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya. Dan untuk khusyuk dlm shalat diperlukan maka diperlukan akhlak, antara lain: ketenangan, kesabaran, tu’maninah (tenang dan berhenti sejenak pada setiap perpindahan gerakan atau rukun shalat). Ini diperlukan praktik.

o e. Hikmah Ibadah Shalat; 

o (1) Menenteramkan hati. 

o (2) Mendapatkan kecintaan dan keridhaan Allah SWT.

o (3) Mencegah perbuatan keji dan mungkar.

o (4) Shalat berjamaah, memakmurkan masjid dan mempekokoh persaudaraan muslim

o f. Makna Spiritual Ibadah Shalat; 

o Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.(Ta ha ayat 14).

o Seseorang yang shalat berarti melakukan hubungan langsung (direct connecting) dengan Allah SWT. Dengan demikian, tercipta rasa aman, tenang, damai, indah, sejuk, dan lapang di dada (di hati), seperti yang dilukiskan Allah dalam ayat, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. (Ar-Ra'd ayat 28).

o g. Ancaman bagi yang meninggalkan shalat. 

o فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ 

o Maka celakalah orang yang salat Al-Ma'un ayat 4),

o الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ  

o yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya (Al-Ma'un ayat 5).

o مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ” 

o (Penghuni surga bertanya kepada penghuni Neraka) “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” (Al-Muddassir ayat 42). 

o قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ 

o Mereka (penghuni Neraka) menjawab, “Dahulu (di dumia) kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat (Al-Muddassir ayat 43) ,


Al-Baqarah, ayat 45-46

{وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46) }

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amal berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (132) 

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.


Rasululah bersabda

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk. (HR. Thabrani)

Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْـجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، وَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ ؛ قَالَ الرَّبُّ : اُنْظُرُوْا ! هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيْضَةِ ، ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَىٰ ذٰلِكَ

"Sungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan selamat-lah dia. Namun jika rusak (sholatnya) maka merugi dan celakalah dia. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci lagi Mahamulia berkata (kepada Malaikat) ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Lalu dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana sebelumnya.’” (HR. Tirmidzi, no. 413) 


Selasa, 18 April 2023

HISAB PASTI TERJADI

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba, sampai dia dimintai pertanggungjawaban tentang:

√ umurnya, untuk apa dia habiskan?
√ ilmunya, apakah diamalkan atau tidak?
√ hartanya, dari mana dia mendapatkan dan untuk apa dia belanjakan?
√ jasadnya (fisiknya/tubuhnya), untuk apa dia gunakan ?*

Tentang umur. Kita hidup di dunia ini hanya dalam waktu singkat, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa umur manusia sekarang, sekitar antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit yang lebih dari itu. Dari umur yang kita jalani (setiap orang berbeda-beda sesuai dengan takdirnya) berapa yang kita pergunakan untuk beribadah dan berapa yang kita gunakan untuk urusan dunia. Seharusnya seluruh hidup kita (umur kita) dipergunakan untuk beribadah, sesuai dengan firman Allah "Dan tidaklah Kami ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku" (Qs. Asy-Syariyah/51, ayat 56). Bisakah begitu ? Jawabannya, bisa. Yaitu dengan cara seluruh apapun yang kita lakukan kita niatkan karena Allah (mengharap Ridha Allah). Hal ini sesuai dengan Hadits 'Setiap amal ditentukan oleh niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan". Dan itu adalah karakter orang yang beriman. Jadi orang yang beriman selain mendapatkan hasil kerjanya di dunia ini, sekaligus mendapatkan bekal untuk kehidupannya nanti di akhirat (yang biasa kita sebut dengan 'pahala' (balasan, ganjaran). Tetapi hanya dengan niat tentu tidak cukup, harus disertai (dibuktikan) dengan perbuatan atau tindakan yang benar yang biasa kita sebut dengan 'amal sholeh'. Jadi dalam hal ini ada tiga hal yang harus sinkron yaitu niat, perkataan dan perbuatan yang benar. Tidak hanya benar tetapi juga harus baik, bahkan sebaik-baiknya. Dengan demikian, Insya Allah umur kita bisa kita pertanggung jawabkan, bisa selamat.

Tentang ilmu. Ilmu yang kita miliki pastikan adalah ilmu yang benar, ilmu yang bermanfaat, bisa diamalkan. Jangan kikir dengan ilmu. Pakai prinsip "ilmu jika diamalkan akan bertambah, tapi jika tidak diamalkan akan hilang". 

Tentang harta. Harta akan lebih berat prtanggung jawabannya, karena ada dua pertanyaan, yaitu dari mana diperoleh dan ke mana dipergunakan. Dari mana diperoleh, harus dari jalan dan cara yang halal dan baik. Dan kemana dipergunakan, kepada hal-hal yang bermanfaat, berguna, atau biasa disebut maslahat.

Tentang jasad atau tubuh kita. Kaki ke mana saja dilangkahkan, tangan ke mana saja dipergunakan, mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh, mestinya semuanya dipergunakan kepada hal-hal yang berguna atau bermanfaat (bernilai ibadah). 

Dengan demikian Insya Allah kita akan selamat dari hisab (perhitungan amal) di hari pembalasan (Akhirat).

*Sumber: (Hadits riwayat at-Tirmidzi no. 2417 dari sahabat Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani

Featured Post

JADILAH SEPERTI MUSAFIR

source image: detik.com عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل...