Selasa, 19 April 2022

Jalam Masuk Surga



Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi. Setiap orang memerlukan penghargaan dan pengakuan dari sesamanya. Saling menghormati antar sesama manusia merupakan kewajiban dan kebutuhan. Menjaga hubungan antar manusia sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar. Salah satu ayat yang membahas tentang saling menghormati

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”
( An - Nisa 86 ).

dari Salman Al-Farisi yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, lalu ia mengucapkan, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah (semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah)." Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menjawab: Semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan atas dirimu. Kemudian datang pula lelaki yang lain dan mengucapkan, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah, warahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah)." Maka beliau Shalallahu'alaihi Wasallam menjawab: Semoga keselamatan dan rahmat serta berkah Allah terlimpahkan atas dirimu. Lalu datang lagi lelaki yang lain dan mengucapkan, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah, warahmatullahi wabarakatuh (semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah)." Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menjawab: Hal yang sama semoga terlimpahkan kepadamu. Maka lelaki yang terakhir ini bertanya, "Wahai Nabi Allah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, telah datang kepadamu si anu dan si anu, lalu keduanya mengucapkan salam kepadamu dan engkau menjawab keduanya dengan jawaban yang lebih banyak dari apa yang engkau jawabkan kepadaku." Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: Karena sesungguhnya engkau tidak menyisakannya buatku barang sedikit pun, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman, "Apabila kalian diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)," maka aku menjawabmu dengan salam yang serupa.

Dari 'Abdullah bin Sal â m, ia berkata: “Ketika Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (karena ingin melihatnya). Ada yang mengatakan: Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah datang, lalu aku mendatanginya ditengah-tengah banyak orang untuk melihatnya. Dan yang pertama kali beliau sampaikan adalah, 'Wahai semua manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang sedang tidur; pasti kalian akan masuk Surga dengan sejahtera. ” Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2485); ad-Dârimi (I/340); Ibnu Mâjah (no. 1334 dan 3251); al-Hâkim (III/13), Ahmad (V/451)

Referensi: https://almanhaj.or.id/12592-amal-amal-yang-dapat-memasukkan-ke-surga-dengan-selamat.html

Rabu, 30 Maret 2022

Indahnya Saling Memaafkan

 


Pada suatu hari, Rasulullah Sallallahu A'laihi Wassallam sedang berkumpul dengan para sahabat beliau.

Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah Sallallahu A'laihi Wasallam tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di sisi Rasulullah, bertanya : "Apa yang membuat Engkau tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah Sallallahu A'laihi Wasallam menjawab : "Aku di beritahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Subhanahu Watta'la".

Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata : "Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah Subhanallau Watta'la berfirman : "Bagaimana bisa Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena dia tidak punya kebaikan di dalam dirinya sedikitpun ?"

Orang itu berkata : "Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku di pikul olehnya".

Sampai di sini, mata Rasulullah berkaca-kaca. Rasulullah tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis.

Lalu, beliau Rasulullah berkata : _ "Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya".

Rasulullah melanjutkan kisahnya.
Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi : "Sekarang angkat kepalamu".

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata : "Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan dinding-dinding dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian. 

Istana-istana itu untuk para Nabi, ya Rabb ?

Atau untuk orang-orang shiddiq, ya Rabb ?

Atau untuk para Syuhada (orang-orang uang mati syahid), ya Rabb ?"

Allah berfirman :
_"Istana itu di berikan kepada orang yang mampu membayar harganya"._

Orang itu bertanya : _"Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb ?"_

Allah berfirman : "Engkau pun mampu membayar harganya".

Orang itu terheran-heran, sambil bertanya :
"Dengan cara apa aku bisa membayarnya, ya Rabb ?"

Allah berfirman : "Caranya adalah, engkau memaafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku".

Orang itu berkata : "Ya Rabb, kini aku memaafkannya".

Allah berfirman : "Kalau begitu, gandenglah tangannya saudaramu itu, dan ajak ia masuk ke surga bersamamu". Masya Allah.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Sallallahu Waa'laihi Wasallam. berkata : _"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai dan memaafkan. Sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin".

(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih).

Saudaraku dan sahabatku tercinta,
Amalan hati yang nilainya tinggi di hadapan Allah adalah :
Nemberi maaf, meminta maaf, dan saling memaafkan.

Maka dari itu maafkan diriku ya saudara dan sahabatku tersayang sekiranya pernah menyakitimu dalam perkataan dan perbuatan.

Semoga kita bersama-sama masuk ke dalam Surga-Nya Allah Subhanahu Wata''ala. Aamiin, aamiin Yaa Rabbal Alamin
..
Salam persaudaraan dan persahabatan.
Mohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan dan kekhilafan kami dan  keluarga..

Selamat menyambut akan datangnya Bulan Suci Ramadhan !


Selasa, 22 Maret 2022

Jin Mendengarkan Al Qur'an Dibacakan

Imam Bukhari dan At-Tirmidzi dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, "Rasulullah tidak pernah sekalipun membacakan Al-Qur'an (secara khusus) kepada bangsa jin dan tidak pula pernah melihat mereka. Akan tetapi, pada suatu ketika beliau bersama beberapa orang sahabat bermaksud pergi ke pasar Ukaz. Ketika itu, para jin sudah tidak dapat lagi mendengarkan berita-berita langit. Setiap kali mereka berusaha (mencuri-curi dengar) maka mereka langsung diburu oleh panah-panah api. Ketika para jin itu kembali kepada kaumnya, mereka lalu berkata, 'Hal ini (terhalangnya kita dari berita langit) tidak lain karena sesuatu telah terjadi.

Oleh karena itu, berpencarlah kalian ke seluruh penjuru bumi ini untuk mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi.' Jin-jin itu pun lantas berpencar ke berbagai penjuru. Setelah melanglang buana beberapa lama, kelompok jin yang baru kembali dari daerah Tihamah lantas bertemu (menemukan) dengan Rasulullah. Ketika itu, beliau dan para sahabat tengah melaksanakan Shalat Subuh. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an, mereka lantas saling berkata, 'Demi Allah, inilah dia yang telah menghalangi kalian dari mendengar berita-berita langit.'

Setelah selesai mendengarkan, mereka pun lantas kembali ke kaumnya (kelompoknya) dan berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an)." Allah lalu menurunkan (ayat) kepada Nabi Saw, Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an), (Quran surah Al Jinn, ayat 1).

Ibnul Jauzi, dalam kitabnya shafwatu Ash-Shafwah, meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dari Sahal bin Abdillah yang berkata, "Suatu hari, saya berada di dekat bekas pemukiman kaum 'Ad terdahulu. Tiba-tiba, saya melihat sebuah perkampungan di permukaan tanah lapang yang berlubang. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah istana dari batu yang berlubang atap dan pintunya. Di lubang itu banyak jin yang bermukim. Saya lantas masuk ke istana itu untuk mencari tahu (ada apa didalamnya). Tiba-tiba, saya melihat seorang tua yang berbadan sangat besar tengah shalat menghadap Ka'bah.' Orang tua itu memakai jubah dari wol yang sangat lembut. Saya tidak begitu kaget melihat badannya yang besar. Saya justru lebih terheran-heran dengan lembutnya jubah yang ia kenakan. Ketika saya memberi salam kepada orang tua itu, ia pun lalu menjawab salam saya. Ia lantas berkata, 'Wahai Sahal, sesungguhnya bukan badan yang mebuat pakaian seseorang lusuh. Akan tetapi, yang membuatnya lusuh dan usang adalah uap-uap dosa dan makanan haram. Sesungguhnya jubah ini telah melekat di tubuh saya selama tujuh ratus tahun.' Dengan jubah inilah saya telah bertemu dengan Nabi Isa a.s. dan Muhammad saw. Lalu beriman kepada keduanya.' Saya lantas berkata, 'Siapa engkau?' Ia menjawab, 'Saya adalah jin yang tentangnya diturunkan ayat, "Katakanlah (Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),' lalu mereka berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an), (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami, (Qs.72: 1-2).

Sumber : Al Qur'an Tajwid, Link :
https://youtu.be/LXRJwhnCL-0

Sabtu, 05 Maret 2022

Terinpirasi dari Anak Kecil Yang Berhati Mulia

 


Usai jumatan kemarin aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya. Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik. Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya.

Tak lama kemudian kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah (dekat mesjid) itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua. Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.

“Berapa harganya Nek?” Tanya anak itu.
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek. Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata: “Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”

Si nenek jelas sekali terlihat berbinar-binar matanya : “Ya Allah terima kasih banyak Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya untuk beli obat cucu yang lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.
Refleks aku panggil anak lelaki itu. “Siapa namamu ? Kelas berapa?” “Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan. “Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'” ” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”

"Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik. “Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu bercerita dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu, sambil saya bertanya : ”Sejak kapan ibumu meninggal Radit?” “Ketika saya masih TK, pak” Tak terasa air mataku menetes : “Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya. Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata : “Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit pulang dulu Pak”. Radit menyalami tanganku dan menciumnya. “Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.

Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik.
Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya. Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya ? Kasir menjawab : ”Empat puluh ribu rupiah..” Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..” “Ya Allah.. Pak…” Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas pergi untuk melanjutkan perjalananku lagi.
Dalam hati aku berdo'a "semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku yg sudah meninggal serta anak-anakku yg sedang berjuang menuntut ilmu."
Saudara & Sahabatku ada kalanya seorang anak kecil lebih jujur dari pada orang dewasa, ajarkan lah anak-anak kita dari dini tindakan nyata yg bukan teori semata.
Kisah ini dari hamba Alloh. *Semoga Alloh memberikan segala yg terbaik disisa umur hidup ini...amin yra*

(Cerita singkat ini dari seseorang yang mengaku sebagai hamba Allah, setahu saya beliau adalah sahabat saya twrkhusus di salah satu group WA, semoga pahalanya dari setiap orang yang membaca tulisan ini tetap mengalir kepadanya. Dan kepada anak kecil yang masih polos namun mulia hatinya, pasti orang tuanya adalah orang baik, "semoga Allah menjadikan Radit anak sholeh yang sukses. Aamiin ya Rabbal 'alamin!).


Tanda-tanda Akhir Zaman

 


Sabda Nabi saw:

Dari Anas Ra, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : "Akan datang di suatu zaman atas umatku di mana para penguasa mereka seperti Singa, dan menteri-menterinya seperti Serigala, dan Hakim (para penegak Hukumnya) seperti Anjing, serta rakyatnya seperti Domba/Kambing. Bagaimana mereka para domba [para rakyat] boleh hidup diantara kerumunan para Singa, Serigala dan Anjing?" (HR. Ad-Dzahabi)

Tahrij Hadits:
Hadits di atas derajadnya Shahih, diriwayatkan Adz-Dzahabi dari sahabat Anas bin Malik (antara lain ada dalam kitab Nashoihul Ibad - Ibnu Hajar Al-Atsqolany).

Penjelasan :
Rasulullah dalam hadits yang bersumber dari Anas bin Malik tersebut memperingatkan bahwa pada suatu zaman, suatu masa nanti, umat Islam atau kaum Muslimin pada umumnya akan mengalami suatu keadaan yang mengancam, dimana digambarkan kondisinya dengan pengibaratan, para Penguasanya seperti Singa, Menteri-menterinya seperti Serigala, dan para hakim serta penegak hukum lainnya seperti Anjing, dan rakyatnya seperti domba/kambing. Bagaimana domba/ kambing boleh bertahan hidup dalam kerumunan binatang buas tersebut..?

Seperti sudah mafhum, sama-sama diketahui, Singa, Serigala dan Anjing adalah termasuk binatang bertaring, binatang buas yang akan memangsa dan menerkam serta memakan korbannya dengan cara yang kejam dan bengis.

Singa adalah binatang buas dengan egoisme dan kekejaman luar biasa, Serigala tak kalah buasnya dengan Singa dan dengan kerakusan yang tak pernah mengenal kepuasan, serta Anjing yang tak mengenal aturan, hanya takut kepada yang lebih kuat dan menindas kepada yang lemah.

Dengan penggambaran penguasa, Menteri dan penegak hukum seperti itu, maka sudah boleh dipastikan rakyatnya atau kaum Muslimin pada umumnya hanya akan menjadi korban penindasan, dimangsa oleh penguasa, menteri-menteri dan hakim serta penegak hukumnya, seperti binatang buas memangsa korbannya.

Sumber :
http://siasahpolitik.blogspot.com/2014/10/akan-terjadi-di-suatu-zaman-atas-umatku.html?m=1


Selasa, 01 Maret 2022

Makna Refleksi Isra' Mi'raj



Ada Tiga Makna Refleksi Isra Mi'raj
Oleh : Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si
(Ketua Umum PP Muhammadiyah)

(1) Makna Kekuasaan Ilahi. Isra Mi'raj Nabi Mihammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha terus ke Sidratul Muntaha, mengandung pesan penting bahwa di atas pencapaian ketinggian ilmu dan kedigdayaan manusia, masih ada kekuatan ilahiya yg tidak selalu bisa dirasionalisasi oleh pencerapan nalar verbal dan ilmu pengetahuan manusia. Manusia dengan kedudukan apapun mesti rendah hati untuk mengakui kekuasaan tertinggi Tuhan, agar kekuatan dirinya bermakna mulia dan tidak disalahgunakan.


(2) Manusia diwajibkan beribadah sebagai wujud penghambaan diri kepada Tuhan sebagaimana perintah shalat bagi umat muslim dari perintah Isra' Mi:raj.
Ibadah shalat memiliki dua fungsi, yakni hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan manusia dengan manusia lainnys (habluminannas) yang mesti memancarkan kesalehan diri, dengan sesama dan lingkungan.

(3) Nabi setelah Isra' Mi'raj menunaikan risalah membangun keadaban manusia dan menebar rahmat bagi semesta. Nabi setelah Mi'raj ke Sidratul Muntaha turun kembali ke bumi untuk mencerahkan peradaban dunia sebagai misi utama kerisalahannya.

Umat muslim dimanapun (berada) berkewajiban menunaikan risalah Nabi itu untuk memajukan peradaban umat manusia yang rahmatan lil'alamin

Sumber https://m.republika.co.id/amp/r81hgb119478573723000


Kamis, 24 Februari 2022

Sahabat Pebisnis Bertangan Emas

 Kisah Sahabat


Abdurrahman bin Auf, termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab r.a.; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.

Namanya pada masa jahiliah adalah Abd Amr. Setelah masuk Islam Rasulullah saw. memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Itulah dia Abdurrahman bin Auf r.a.

Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah saw. masuk ke rumah Al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar ash-Shidiq masuk Islam.

Sama halnya dengan kelompok kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy, tetapi dia sabar dan tetap sabar.

Pendiriannya teguh dan senantiasa teguh. Dia menghindari dari kekejaman kaum Quraisy, tetapi selalu setia dan patuh membenarkan risalah Muhammad. Kemudian dia turut pindah (hijrah) ke Habasyah bersama-sama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy yang senantiasa menerornya.

Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat beliau diijinkan Allah hijrah ke Madinah. Abdurrahman menjadi pelopor bagi orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Dalam perantauan, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar. Maka Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ al-Anshari r.a.

Pada suatu hari Sa’ad berkata kepada saudaranya, Abdurrahman, “Wahai saudaraku Abdurrahman! Aku termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Hartaku banyak. Saya mempunyai dua bidang kebun yang luas, dan dua orang pembantu. Pilihlah olehmu salah satu di antara kedua kebun itu, kuberikan kepadamu mana yang kamu sukai. Begitu pula salah seorang di antara kedua pembantuku, akan kuserahkan mana yang kamu senangi, kemudian aku nikahkan engkau dengan dia.”

Jawab Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, kepadamu Keluargamu dan kepada hartamu. Saya hanya akan minta tolong kepada untuk menunjukkan di mana letaknya pasar Madinah ini.”

Sa’ad menunjukkan pasar tempat berjual beli kepada Abdurrahman. Maka, mulailah Abdurrahman berniaga di sana, berjual beli, melaba dan merugi. Belum berapa lama dia berdagang, terkumpullah uangnya sekadar cukup untuk mahar menikah. Dia datang kepada Rasulullah memakai harum-haruman. Beliau menyambut kedatangan Abdurrahman seraya berkata, “Wah, alangkah wanginya kamu, hai Abdurrahman.”

Kata Abdurrahman, “Saya hendak menikah ya Rasulullah.”

Tanya Rasulullah, “Apa mahar yang kamu berikan kepada istrimu?”

Jawab Abdurrahman, “Emas seberat biji kurma.”

Kata Rasulullah, “Adakan kenduri (walima), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkahi pernikahanmu dan hartamu.”

Kata Abdurrahman, “Sejak itu dunia datang menghadap kepadaku (hidupku makmur dan bahagia). Hingga seandainya aku angkat sebuah batu, maka dibawahnya kudapati emas dan perak.”

Dalam Perang Badar, Abdurrahman turut berjihad fi sabilillah, dan dia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, antara lain Umair bin Utsman bin Ka’ab bin Auf at-Taimy. Dalam Perang Uhud, dia tetap teguh bertahan di samping Rasulullah, ketika tentara muslimin banyak yang meninggalkan medan laga. Ketika selesai perang dan kaum muslimin keluar sebagai pemenang, Abdurrahman mendapatkan hadiah sembilan luka parah menganga di tubuhnya dan dua puluh luka kecil. Walau luka kecil, namun di antaranya ada yang sedalam anak jari. Sekalipun begitu, perjuangan dan pengorbanan Abdurrahman di medan tempur jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan perjuangan dan pengorbanannya dengan harta benda.

Pada suatu hari Rasulullah saw. berpidato membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum muslimin. Beliau berdiri ditengah-tengah para sahabat. Kata beliau, antara lain, “Bersedekahlah tuan-tuan! Saya hendak mengirim satu pasukan ke medan perang.”

Mendengar ucapan Rasulullah saw. tersebut, Abdurrahman bergegas pulang ke rumahnya dan cepat pula kembali ke hadapan Rasululalh di tengah-tengah kaum muslimin. Katanya, “Ya Rasulallah! saya mempunyai uang emapt ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah dan dua ribu saya tinggalkan untuk keluarga saya.” Lalu uang yang dibawa dari rumah itu diserahkan kepada Rasulullah dua ribu.

Sabda Rasulullah, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu terhadap harta yang kamu berikan dan semoga Allah memberkati pula harta yang kamu tinggalkan untuk keluargamu.”

Ketika Rasulullah bersiap untuk menghadapi Perang Tabuk, beliau membutuhkan jumlah dana dan tentara yang tidak sedikit, karena jumlah tentara musuh, yaitu tentara Rum cukup banyak. Di samping itu, Madinah tengah mengalami musim panas. Perjalanan ke Tabuk sangat jauh dan sulit. Dana yang tersedia hanya sedikit. Begitu pula hewan kendaraan tidak mencukupi. Banyak di antara kaum muslimin yang kecewa dan sedih karena ditolak Rasulullah saw. menjadi tentara yang akan turut berperang, sebab kendaraan untuk mereka tidak mencukupi. Mereka yang ditolak itu kembali pulang dengan air mata bercucuran kesedihan, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk disumbangkannya. Mereka yang tidak terima itu terkenal dengan nama Al-Bakkaain (orang yang menangis) dan pasukan yang berangkat terkenal dengan sebutan Jaisyul ‘Usrah (pasukan susah).

Karena itu, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin mengorbankan harta benda mereka untuk jihad fii sabilillah. Dengan patuh dan setia kaum muslimin memperkenankan seruan Nabi yang mulia. Abdurrahman turut memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Maka kata Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah saw., “Agaknya Abdurrahman berdosa, tidak meninggalkan uang sedikit juga untuk istrinya.”
(1 uqiyah emas = 31,72 gr emas × 200 = 6.544 gr emas × Rp. 500.000 = Rp. 3.272,000,000,-).

Rasulullah saw. bertanya kepada Abdurrahman, “Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk istrimu?”

Abdurrahman menjawab, “Ada! mereka saya tinggalikan lebih banyak daripada yang saya sumbangkan.”

Tanya Rasulullah saw., “Berapa?”

Jawab Abdurrahman, “Sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.”

Pasukan tentara muslimin berangkat ke Tabuk. Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperolah kaum muslimin seorang jua pun, yaitu ketika waktu salat sudah masuk, Rasulullah terlambat hadir. Maka, Abdurrahman menjadi imam salat berjamaah bagi kaum muslimin ketika itu. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu beliau salat di belakang Abdurrahman dan mengikutinya sebagai makmum. Apakah lagi yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu Muhammad Rasulullah saw.

Setelah Rasululalh saw. wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan ummahatul mukminin (istri para Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu yang mulia itu bila bepergian. Apabila para ibu tersebut pergi haji, Abdurrahman turut pula bersama-sama mereka. Dia yang menaikkan dan menurunkan para ibu itu ke atas haudaj (sekedup) khusus mereka. Itulah salah satu bidang khusus yang ditangani Abdurrahman. Dia pantas bangga dan bahagia dengan tugas dan kepercayaan yang dilimpahkan para ibu orang-orang mukmin kepadanya.

Salah satu bukti yang dibaktikan Abdurrahman kepada ibu-ibu yang mulia, ia pernah membeli sebidang tanah seharga empat ribu dinar. Lalu tanah itu dibagi-bagikannya seluruhnya kepada fakir miskin Bani Zuhrah dan kepada para ibu-ibu orang mukmin, istri Rasulullah. Ketika jatah ibu Aisyah r.a. disampaikan orang kepadanya, ibu yang mulia itu bertanya, “Siapa yang menghadiahkan tanah itu buat saya?”

Orang itu menjawab, “Abdurrahman bin Auf.”

Kata ibu Aisyah r.a., Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku, kecuali orang-orang yang sabar.”

Begitulah doa Rasulullah saw. bagi Abdurrahman. Semoga Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya sepanjang hidupnya, sehingga Abdurrahman menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Perniagaannya selalu meningkat dan berkembang. Kafilah dagangnya terus-menerus hilir mudik dari dan ke Madinah mengangkut gandum, tepung, minyak, pakaian, barang-barang pecah-belah, wangi-wangian dan segala kebutuhan penduduk.

Pada suatu hari iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman terdiri dari tujuh ratus unta bermuatan penuh tiba di Madinah. Ya! tujuh ratus ekor unta bermuatan penuh, tidak salah. Semuanya membawa pangan, sandang, dan barang-barang lain kebutuhan penduduk. Ketika mereka masuk kota, bumi seolah-olah bergetar. Terdengar suara gemuruh dan hiruk pikuk. Sehingga Aisyah bertanya, “Suara apa hiruk pikuk itu?”

Dijawab orang, “Kafilah Abdurrahman dengan iring-iringan tujuh ratus ekor unta bermuatan penuh membawa pangan, sandang serta lainnya.

Kata Asiyah r.a. “Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya bagi Abdurrahman dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat. Saya mendengar Rasululalh saw. bersabda, “Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak (karena surga sudah dekat sekali kepadanya).”

Sebelum menghentikan iring-iringan unta, seorang pembawa berita mengatakan kepada Abdurrahman bin Auf berita gembira yang disampiakan Aisyah, bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga. Serentak mendengar berita itu, bagaikan terbang ia menemuai ibu Aisyah. Katanya, “Wahai Ibu, apakah Ibu mendengar sendiri ucapan itu diucapkan Rasulullah?”

Jawab Aisyah, “Ya, saya mendengar sendiri.”

Abdurrahman melonjak kegirangan. Katanya, “Seandainya aku sanggup, aku akan memasukinya sambil berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya, kuserahkan untuk jihad fisabilillah.

Sejak berita yang membahagiakan itu, Abdurrahman pasti masuk surga, maka semangatnya semakin memuncak mengorbankan kekayaannya di jalan Allah. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, sehingga mencapai 40.000 dirham perak. Kemudian menyusul pula 40.000 dinar emas. Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Lalu diserahkannya pula 500 ekor kuda kepada para pejuang.

Sesudah itu 1500 ekor unta untuk pejuang-pejuang lainnya dan tatkala dia hampir meninggal dunia, dimerdekakannya sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian diwasiatkannya supaya memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing bekas pejuang Perang Badar. Mereka berjumlah seratus orang, dan semua mengambil bagiannya masing-masing. Dia berwasiat pula supaya memberikan hartanya yang paling mulia untuk para ibu-ibu orang mukmin, sehingga ibu Aisyah sering mendoakannya, “Semoga Allah memberikannya minum dengan minuman dari telaga salsabil.”

Di samping itu, dia meningggalkan warisan pula untuk ahli warisnya sejumlah harta yang hampir tidak terhitung banyaknya. Dia meninggalkan kira-kira 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3000 ekor kambing, dia beristri empat orang. Masing-masing mendapatkan pembagian khusus 80.000, di samping itu masih ada peninggalannya berupa emas dan perak, yang kalau dia bagi-bagikan kepada ahli warinsnya dengan mengampak, maka potongan-potongannya cukup menjadikan seorang ahli warisnya manjadi kaya raya.

Begitulah karunia Allah SWT kepada Abdurrahman berkat doa Rasulullah kepadanya semoga Allah memberkatinya dan hartanya.

Walaupun begitu kaya rayanya, harta kekayaan itu seluruhnya tidak mempengaruhi jiwanya yang penuh iman dan takwa. Apabila ia berada di tengah-tengah budaknya, orang tidak dapat membedakan di antara mereka, mana yang majikan dan mana yang budak.

Pada suatu hari dihidangkan orang kepadanya makanan, padahal dia puasa. Dia menengok makanan itu seraya berkata, “Mushab bin Umair tewas di medan juang. Dia lebih baik daripada saya, waktu dikafani, jika kepalanya ditutup, maka terbuka kainnya. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sesungguhnya saya sangat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah memberikannya kepada kita (di dunia ini).”

Sesudah berkata begitu, dia mengangis tersedu-sesudu, sehingga nafsu makannya jadi hilang.

Berkatalah Abdurrahman bin Auf dengan ribuan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Rasulullah saw. yang ucapannya selalu terbukti benar telah memberinya kabar gembira dengan surga jannatun na’im.

Telah turut menghantarkan jenazahnya ke tempatnya terakhir di dunia, antara lain sahabat yang mulia Sa’ad bin Abi Waqqash. Pada salat jenazahnya turut pula, antara lain, Dzun Nurain, Utsman bin Affan. Kata sambutan saat pemakaman, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Dalam sambutannya antara lain Ali berkata, “Anda telah mendapatkan kasih sayang, dan Anda berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmati Anda. Amin!”.

(Sumber: Dikutip dan diedot dari Aplikasi "Kisah Nyata Islami.").


Featured Post

JADILAH SEPERTI MUSAFIR

source image: detik.com عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل...