Rabu, 30 Maret 2022

Indahnya Saling Memaafkan

 


Pada suatu hari, Rasulullah Sallallahu A'laihi Wassallam sedang berkumpul dengan para sahabat beliau.

Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah Sallallahu A'laihi Wasallam tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di sisi Rasulullah, bertanya : "Apa yang membuat Engkau tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah Sallallahu A'laihi Wasallam menjawab : "Aku di beritahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Subhanahu Watta'la".

Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata : "Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah Subhanallau Watta'la berfirman : "Bagaimana bisa Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena dia tidak punya kebaikan di dalam dirinya sedikitpun ?"

Orang itu berkata : "Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku di pikul olehnya".

Sampai di sini, mata Rasulullah berkaca-kaca. Rasulullah tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis.

Lalu, beliau Rasulullah berkata : _ "Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya".

Rasulullah melanjutkan kisahnya.
Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi : "Sekarang angkat kepalamu".

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata : "Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan dinding-dinding dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian. 

Istana-istana itu untuk para Nabi, ya Rabb ?

Atau untuk orang-orang shiddiq, ya Rabb ?

Atau untuk para Syuhada (orang-orang uang mati syahid), ya Rabb ?"

Allah berfirman :
_"Istana itu di berikan kepada orang yang mampu membayar harganya"._

Orang itu bertanya : _"Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb ?"_

Allah berfirman : "Engkau pun mampu membayar harganya".

Orang itu terheran-heran, sambil bertanya :
"Dengan cara apa aku bisa membayarnya, ya Rabb ?"

Allah berfirman : "Caranya adalah, engkau memaafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku".

Orang itu berkata : "Ya Rabb, kini aku memaafkannya".

Allah berfirman : "Kalau begitu, gandenglah tangannya saudaramu itu, dan ajak ia masuk ke surga bersamamu". Masya Allah.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Sallallahu Waa'laihi Wasallam. berkata : _"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai dan memaafkan. Sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin".

(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih).

Saudaraku dan sahabatku tercinta,
Amalan hati yang nilainya tinggi di hadapan Allah adalah :
Nemberi maaf, meminta maaf, dan saling memaafkan.

Maka dari itu maafkan diriku ya saudara dan sahabatku tersayang sekiranya pernah menyakitimu dalam perkataan dan perbuatan.

Semoga kita bersama-sama masuk ke dalam Surga-Nya Allah Subhanahu Wata''ala. Aamiin, aamiin Yaa Rabbal Alamin
..
Salam persaudaraan dan persahabatan.
Mohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan dan kekhilafan kami dan  keluarga..

Selamat menyambut akan datangnya Bulan Suci Ramadhan !


Selasa, 22 Maret 2022

Jin Mendengarkan Al Qur'an Dibacakan

Imam Bukhari dan At-Tirmidzi dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, "Rasulullah tidak pernah sekalipun membacakan Al-Qur'an (secara khusus) kepada bangsa jin dan tidak pula pernah melihat mereka. Akan tetapi, pada suatu ketika beliau bersama beberapa orang sahabat bermaksud pergi ke pasar Ukaz. Ketika itu, para jin sudah tidak dapat lagi mendengarkan berita-berita langit. Setiap kali mereka berusaha (mencuri-curi dengar) maka mereka langsung diburu oleh panah-panah api. Ketika para jin itu kembali kepada kaumnya, mereka lalu berkata, 'Hal ini (terhalangnya kita dari berita langit) tidak lain karena sesuatu telah terjadi.

Oleh karena itu, berpencarlah kalian ke seluruh penjuru bumi ini untuk mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi.' Jin-jin itu pun lantas berpencar ke berbagai penjuru. Setelah melanglang buana beberapa lama, kelompok jin yang baru kembali dari daerah Tihamah lantas bertemu (menemukan) dengan Rasulullah. Ketika itu, beliau dan para sahabat tengah melaksanakan Shalat Subuh. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an, mereka lantas saling berkata, 'Demi Allah, inilah dia yang telah menghalangi kalian dari mendengar berita-berita langit.'

Setelah selesai mendengarkan, mereka pun lantas kembali ke kaumnya (kelompoknya) dan berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an)." Allah lalu menurunkan (ayat) kepada Nabi Saw, Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an), (Quran surah Al Jinn, ayat 1).

Ibnul Jauzi, dalam kitabnya shafwatu Ash-Shafwah, meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dari Sahal bin Abdillah yang berkata, "Suatu hari, saya berada di dekat bekas pemukiman kaum 'Ad terdahulu. Tiba-tiba, saya melihat sebuah perkampungan di permukaan tanah lapang yang berlubang. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah istana dari batu yang berlubang atap dan pintunya. Di lubang itu banyak jin yang bermukim. Saya lantas masuk ke istana itu untuk mencari tahu (ada apa didalamnya). Tiba-tiba, saya melihat seorang tua yang berbadan sangat besar tengah shalat menghadap Ka'bah.' Orang tua itu memakai jubah dari wol yang sangat lembut. Saya tidak begitu kaget melihat badannya yang besar. Saya justru lebih terheran-heran dengan lembutnya jubah yang ia kenakan. Ketika saya memberi salam kepada orang tua itu, ia pun lalu menjawab salam saya. Ia lantas berkata, 'Wahai Sahal, sesungguhnya bukan badan yang mebuat pakaian seseorang lusuh. Akan tetapi, yang membuatnya lusuh dan usang adalah uap-uap dosa dan makanan haram. Sesungguhnya jubah ini telah melekat di tubuh saya selama tujuh ratus tahun.' Dengan jubah inilah saya telah bertemu dengan Nabi Isa a.s. dan Muhammad saw. Lalu beriman kepada keduanya.' Saya lantas berkata, 'Siapa engkau?' Ia menjawab, 'Saya adalah jin yang tentangnya diturunkan ayat, "Katakanlah (Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),' lalu mereka berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an), (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami, (Qs.72: 1-2).

Sumber : Al Qur'an Tajwid, Link :
https://youtu.be/LXRJwhnCL-0

Sabtu, 05 Maret 2022

Terinpirasi dari Anak Kecil Yang Berhati Mulia

 


Usai jumatan kemarin aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya. Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik. Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya.

Tak lama kemudian kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah (dekat mesjid) itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua. Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.

“Berapa harganya Nek?” Tanya anak itu.
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek. Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata: “Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”

Si nenek jelas sekali terlihat berbinar-binar matanya : “Ya Allah terima kasih banyak Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya untuk beli obat cucu yang lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.
Refleks aku panggil anak lelaki itu. “Siapa namamu ? Kelas berapa?” “Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan. “Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'” ” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”

"Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik. “Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu bercerita dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu, sambil saya bertanya : ”Sejak kapan ibumu meninggal Radit?” “Ketika saya masih TK, pak” Tak terasa air mataku menetes : “Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya. Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata : “Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit pulang dulu Pak”. Radit menyalami tanganku dan menciumnya. “Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.

Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik.
Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya. Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya ? Kasir menjawab : ”Empat puluh ribu rupiah..” Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..” “Ya Allah.. Pak…” Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas pergi untuk melanjutkan perjalananku lagi.
Dalam hati aku berdo'a "semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku yg sudah meninggal serta anak-anakku yg sedang berjuang menuntut ilmu."
Saudara & Sahabatku ada kalanya seorang anak kecil lebih jujur dari pada orang dewasa, ajarkan lah anak-anak kita dari dini tindakan nyata yg bukan teori semata.
Kisah ini dari hamba Alloh. *Semoga Alloh memberikan segala yg terbaik disisa umur hidup ini...amin yra*

(Cerita singkat ini dari seseorang yang mengaku sebagai hamba Allah, setahu saya beliau adalah sahabat saya twrkhusus di salah satu group WA, semoga pahalanya dari setiap orang yang membaca tulisan ini tetap mengalir kepadanya. Dan kepada anak kecil yang masih polos namun mulia hatinya, pasti orang tuanya adalah orang baik, "semoga Allah menjadikan Radit anak sholeh yang sukses. Aamiin ya Rabbal 'alamin!).


Tanda-tanda Akhir Zaman

 


Sabda Nabi saw:

Dari Anas Ra, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : "Akan datang di suatu zaman atas umatku di mana para penguasa mereka seperti Singa, dan menteri-menterinya seperti Serigala, dan Hakim (para penegak Hukumnya) seperti Anjing, serta rakyatnya seperti Domba/Kambing. Bagaimana mereka para domba [para rakyat] boleh hidup diantara kerumunan para Singa, Serigala dan Anjing?" (HR. Ad-Dzahabi)

Tahrij Hadits:
Hadits di atas derajadnya Shahih, diriwayatkan Adz-Dzahabi dari sahabat Anas bin Malik (antara lain ada dalam kitab Nashoihul Ibad - Ibnu Hajar Al-Atsqolany).

Penjelasan :
Rasulullah dalam hadits yang bersumber dari Anas bin Malik tersebut memperingatkan bahwa pada suatu zaman, suatu masa nanti, umat Islam atau kaum Muslimin pada umumnya akan mengalami suatu keadaan yang mengancam, dimana digambarkan kondisinya dengan pengibaratan, para Penguasanya seperti Singa, Menteri-menterinya seperti Serigala, dan para hakim serta penegak hukum lainnya seperti Anjing, dan rakyatnya seperti domba/kambing. Bagaimana domba/ kambing boleh bertahan hidup dalam kerumunan binatang buas tersebut..?

Seperti sudah mafhum, sama-sama diketahui, Singa, Serigala dan Anjing adalah termasuk binatang bertaring, binatang buas yang akan memangsa dan menerkam serta memakan korbannya dengan cara yang kejam dan bengis.

Singa adalah binatang buas dengan egoisme dan kekejaman luar biasa, Serigala tak kalah buasnya dengan Singa dan dengan kerakusan yang tak pernah mengenal kepuasan, serta Anjing yang tak mengenal aturan, hanya takut kepada yang lebih kuat dan menindas kepada yang lemah.

Dengan penggambaran penguasa, Menteri dan penegak hukum seperti itu, maka sudah boleh dipastikan rakyatnya atau kaum Muslimin pada umumnya hanya akan menjadi korban penindasan, dimangsa oleh penguasa, menteri-menteri dan hakim serta penegak hukumnya, seperti binatang buas memangsa korbannya.

Sumber :
http://siasahpolitik.blogspot.com/2014/10/akan-terjadi-di-suatu-zaman-atas-umatku.html?m=1


Selasa, 01 Maret 2022

Makna Refleksi Isra' Mi'raj



Ada Tiga Makna Refleksi Isra Mi'raj
Oleh : Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si
(Ketua Umum PP Muhammadiyah)

(1) Makna Kekuasaan Ilahi. Isra Mi'raj Nabi Mihammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha terus ke Sidratul Muntaha, mengandung pesan penting bahwa di atas pencapaian ketinggian ilmu dan kedigdayaan manusia, masih ada kekuatan ilahiya yg tidak selalu bisa dirasionalisasi oleh pencerapan nalar verbal dan ilmu pengetahuan manusia. Manusia dengan kedudukan apapun mesti rendah hati untuk mengakui kekuasaan tertinggi Tuhan, agar kekuatan dirinya bermakna mulia dan tidak disalahgunakan.


(2) Manusia diwajibkan beribadah sebagai wujud penghambaan diri kepada Tuhan sebagaimana perintah shalat bagi umat muslim dari perintah Isra' Mi:raj.
Ibadah shalat memiliki dua fungsi, yakni hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan manusia dengan manusia lainnys (habluminannas) yang mesti memancarkan kesalehan diri, dengan sesama dan lingkungan.

(3) Nabi setelah Isra' Mi'raj menunaikan risalah membangun keadaban manusia dan menebar rahmat bagi semesta. Nabi setelah Mi'raj ke Sidratul Muntaha turun kembali ke bumi untuk mencerahkan peradaban dunia sebagai misi utama kerisalahannya.

Umat muslim dimanapun (berada) berkewajiban menunaikan risalah Nabi itu untuk memajukan peradaban umat manusia yang rahmatan lil'alamin

Sumber https://m.republika.co.id/amp/r81hgb119478573723000


Featured Post

JADILAH SEPERTI MUSAFIR

source image: detik.com عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل...